Penggila Bola, Stop Politisasi Bola

Meskipun harga tiket menaik hingga mencapai 200%, pelayangan yang kurang baik, dan harus mengantri dari pagi hingga sore, para spoter Indonesia tetap setia menyaksikan pertandingan final kelanjutan SEA Games 2011.

Memang emosi penggila bola Indonesia akibat mereka tak antrian yang belum juga mendapatkan tiket, ujung dari emosi mereka membakar loket tiket, emosi yang tersulut sebelum pertandingan final antara Timnas Indonesia VS Timnas Malaysia.

Dalam pertandingan tersebut, sudah dipastikan akan berjalan seru, sebuah pertandingan yang akan memperebutkan emas, dan juga ajang pembuktian siapa yang terbaik di asia tenggara. Dan sepertinya pertarungan bukan hanya pada bola, melainkan pada sisi lainya, banyak hal yang mengakibatkan pertarungan bukan hanya pertandingan bola, salah satunya pertarungan budaya, daerah perbatasan, dan semuanya menyatu menjadi dendam tersendiri.

Maka tak mengheran, jika para rakyat Indonesia tak sabar menyaksikan pertandingan antar Indonesia VS Malaysia guna mendukung Timnas Indonesia berjuang menghadapi Malaysia, dan begitu cintanya terhadap bangsa Indonesia membuat mereka tak peduli harus mengantri dari pagi sampai sore dan esok pada hari ini, (21/11) harus kembali mengantri, dan harus menambah kocek yang tiba-tiba secara manaik.

Dan sudah sepatunya para elit PSSI dengan momentum ini dapat memperbaiki kenerjanya, jangan-jangan sampai kekecewaan para pencinta bola berujung pada anarkis, dan sudah saat bola bukan ajang politisasi, sudah lelah bangsa Indonesia terhadap hal-hal yang tak kunjung membuat bola Indonesia melanjak.

Pada momentum ini juga, bola kita bisa tunjukan pada asia tenggara, bahwa kita merupakan macan asia tenggara, lalu kita buktikan pada tingkat asia, lalu dunia. Jadi sekali lagi, hentikan politisasi bola. Dan biarkan rakyat dengan bangga menyanyikan lagu kebangsaan dan mengibarkan bendera merah putih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru SD Tewas Ditembak Penembak Misterius

Patung Sagung Wah, Diresmikan Dengan Pementasan Drama dan Puisi

Butuh Presiden Galak