Merasakan Minoritas, Menciptakan Perdamaian

Sesorang becerita kepada saya, tentang bagaimana saat dia datang pada salah satu kedai, lalu datang seorang pelayan yang menawarkan menu yang ada.

Di dalam Kedai itu, terdapat para pembeli dan pelayan yang merupakan keturunan dari yang menurut teman saya berbeda dengannya, barulah saat itu, ia merasakan benar-benar sebagai minoritas.

Berbeda halnya di tempat yang lain, bahwa ia akan merasakan sebagai kaum mayoritas, dan bisa jadi orang yang berada di kedai tersebut akan menjadi minoritas di tempat yang mana teman saya menjadi mayoritas.

Dengan penuh semangatnya, ia terus saja bercerita dengan ciri khasnya, yakni sedikit mengabaikan titik, koma. Dan pada akhir cerita tersebut, ia dengan berujar “ beruntung ia datang berdua, kalau tidak tentunya, saya akan merasakan terasing.

Sebuah perasaan minoritas dalam kedai tersebut. Dari manakah perasaan terasing tersebut terlahir? Sebuah perasaan yang pada dasarnya masih dalam satu atap, ia para pengunjung adalah warga yang telah mendiami Indonesia dari zaman nenek monyangnya, dan mungkin saja seseorang yang bercerita itu, mempunyai nenek monyang yang sama dengan para pembeli lainya.

Kemungkinan yang paling mungkin, bahwa perasaan sebagai minoritas hadir disebabkan karena, terlalu banyak perdebatan mengenai perbedaan, sehingga memunculkan klasifikasi tentang A, B, dan mereka adalah C.

Karena telah menghasilkan klasifikasi maka di antara A, B. dan C. akhirnya terdapat sebuah yang mencolok bahwa yang mana kumpulan dari A, B, dan C. Dari kumpulan tersebut mana yang paling banyak dalam ruang dan waktu tertentu.

Mungkin itu juga, yang mengakibatkan perasaan orang sedang bercerita kepada saya, bahwa ia merasakan dirinya yang berbeda dengan kumpulan yang ada dalam kedai tersebut. Dan saat itu entah apa yang dirasakan jika pada akhirnya, jika ia dilayani secara kurang baik, dan para penghuni kedai tersebut mencercanya. Dan saya beruntung meskipun berbeda dengan yang lain saya masih dihargai.

Berbicara tentang minoritas, mengingatkan saya pada sebuah dialog yang diadakan oleh Sejuk yang bertemakan tentang kerukunan beragama dan bagaimana peranan media. Sebuah dialog yang terjadi disebabkan oleh perang antar agama.

Salah satu pembicara dalam seminar itu, berbicara mengenai bagaimana media dapat berperan aktif dalam menjaga kerukunan, salah satunya yang dapat dilakukan, yakni dengan memposisikan penulis sebagai minoritas, bagaimana perasaannya saat sebuah warung yang tiba-tiba dibakar atau diganggu. Dan sejujurnya saya merasakan kerinduan akan berita-berita yang bersifat kemanusiaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru SD Tewas Ditembak Penembak Misterius

Patung Sagung Wah, Diresmikan Dengan Pementasan Drama dan Puisi

Butuh Presiden Galak